Looking for something ?

Minggu, 03 Agustus 2014

REVIEW The Invention of Hugo Cabret

Judul: The Invention Of Hugo Cabret
Penulis: Brian Selznick
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Dhewiberta
Pemeriksa aksara: Iyan Wb.
Perancang sampul: Brian Selznick
Ilustrasi isi: Brian Selznick
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Januari 2012 (cetakan I)
Tebal: 544 hlm
ISBN: 978-979-433-681-6
Beli di Bukukita.com harga Rp.30.000 waktu Promo Mizan
Harga: Rp. 58.650 (Bukabuku)
My rating for this novel: * * * * * 5 stars
 Sinopsis:
Kehadirannya bagaikan hantu. Hugo menyelinap dari satu bilik ke bilik lain, menyusuri lorong tak terlihat, dan mengendap-endap di bawah temaram lampu stasiun kota. Tak seorang pun tahu, Hugo menyembunyikan sebuah rahasia besar warisan mendiang ayahnya, satu-satunya pengikat dirinya dengan masa lalu sekaligus masa depan. Namun, semua berubah ketika dia berjumpa seorang pria tua berwajah muram yang selalu berusaha menguak rahasia besar Hugo. Apa hubungan antara pria tua itu dengan rahasia Hugo?


Review:
“ Tahukah kau bahwa suara detak tumit sepatu dapat memanggil hantu ? Apa kau ingin dibuntuti hantu ?” (hlm 105)

Sejak pertama kali menonton filmnya, aku langsung jatuh cinta. Dan ternyata ini sebuah film adaptasi novel. Akhirnya kesampaian juga bisa baca buku ini (^v^)
Ayo simak ceritanya !


Hugo Cabret adalah seorang anak berusia 12 tahun yang hidup sebatang kara yang tinggal di sebuah stasiun kereta api di Paris, Prancis. Ayahnya meninggal karena sebuah kebakaran di sebuah museum tempat dimana ayahnya bekerja. Saat itu Ayah Hugo sedang memperbaiki sebuah mesin yang rumit, bernama Automaton.



“ Benda apa itu ?
  Automaton.
  Apa itu ?
  Patung putar, seperti kotak musik atau mainan, hanya saja, jauh lebih rumit. Ayah pernah melihat beberapa sebelumnya, burung yang bernyanyi di kandangnya, dan akrobat mekanis di palang besi. Tetapi yang satu ini jauh lebih kompleks dan menarik daripada yang lain." (hlm 124)
Automaton yang ini bisa menulis. Setidaknya ayah Hugo kira demikian. Dia memegang pena, dan duduk di meja. Di dalamnya terdapat ratusan bagian kecil, termasuk belasan roda yang tepinya berlekuk-lekuk. Ayahnya yakin automaton itu bekerja, Hugo bisa memutarnya, menaruh selembar kertas di meja, dan semua bagian-bagian kecil itu akan menyala dan menggerakkan tangannya sedemikian rupa sehingga dia bisa menulis semacam pesan. Mungkin dia akan menulis puisi atau teka-teki. Tetapi benda itu terlalu rusak dan berkarat untuk melakukan apa-apa sekarang.
Automaton biasanya dibuat oleh pesulap untuk mempertunjukkan aksi sulap dari automaton atau disebut automata.
Saat memperbaiki mesin tersebut, penjaga museum tidak mengetahui jika Ayah Hugo masih didalam, sehingga ayahnya terkunci di dalam museum tersebut yang akhirnya dilanda kebakaran sehingga menewaskan ayahnya.
Semenjak kematian ayahnya, Hugo tinggal bersama paman Claude, penjaga waktu yang bekerja memperbaiki jam-jam di stasiun kereta api. Pamannya yang suka mabuk-mabukkan itu tidak pernah merawat Hugo dengan kasih sayang. Ia suka membentak, memukul, dan memaksa Hugo tidur di lantai. Sejak tinggal bersama pamannya, Hugo tidak bersekolah lagi. Pamannya mengajari Hugo memperbaiki mesin jam di stasiun dan mencuri. Namun, pada suatu hari pamannya tidak pulang-pulang. Hugo yang saat itu sangat kelaparan, akhirnya pergi meniggalkan apartemen pamannya.
Ketika di perjalanan , ia menemukan sebuah benda yang sudah tak asing lagi di matanya, automaton. Benda itu sudah rusak dan tergeletak tak berdaya di reruntuhan museum. Merasa jika automaton itu bisa memberinya petunjuk untuk mengubah hidupnya yang sengsara, ia kembali ke apartemen, mulai memperbaiki automaton dengan sesuai petunjuk di buku catatan ayahnya.
  

“ Kadang-kadang aku berpikir aku suka dengan foto-foto ini sama seperti aku suka film, kamu bisa membuat cerita sendiri dengan melihat sebuah foto.” (hlm 203)
Hidup tanpa uang, memicu Hugo untuk mencuri sesuai dengan petunjuk pamannya. Selain makanan dan minuman ia juga membutuhkan benda-benda logam untuk memperbaiki automaton yang hanya ditemukannya di kios mainan kakek tua bernama Papa Georges. Lebih aneh lagi mesin-mesin di mainan tersebut cocok untuk memperbaiki automaton. Tetapi, suatu hari Hugo ketahuan pemilik kios itu. Kakek itu menyuruh Hugo mengeluarkan seluruh curiannya dari saku jasnya yang membuatnya terpaksa mengeluarkan buku catatan ayahnya. 
Dibukanya buku itu oleh Papa Georges. Ia melihat gambar automaton di buku catatan Hugo, kakek itu terlihat terkejut dan ketakutan. Kemudian, Papa Georges malah tidak ingin mengembalikan buku itu pada Hugo dan mengancam untuk membakarnya. 
Jika buku itu dibakar, maka lenyaplah harapannya untuk mengetahui rahasia dibalik automatonnya. Hugo juga bertemu dengan anak angkat Papa Georges, Isabelle. Isabelle yang gemar membaca buku ini ingin sekali membantu Hugo untuk mendapatkan kembali buku catatannya. 

“ Kamu tahu tempat tinggalku, kamu tahu tentang orang tuaku. Kalau kita akan berteman, menurutku aku harus tahu tentangmu.Mengapa kamu tidak mau memberi tahu?” (hlm 215)

Bahkan ayah angkat Isabelle, Papa Georges juga memiliki rahasianya tersendiri. Rahasia yang sangat pribadi tentang masa lalunya yang manis pahit.

The Invention of Hugo Cabret adalah satu buku favoritku. Buku ini tergolong unik, karena di setiap lembar halamannya kita akan disuguhkan ilustrasi-ilustrasi indah yang juga digambar oleh pengarangnya sendiri, yakni Brian Selznick. Aku langsung makin cinta dengan buku ini termasuk pengarangnya hehehe....
Ilustrasinya tidak hanya sebagai pajangan atau penghias saja. Ia juga banyak berperan dalam buku ini. Sehingga pembacanya tidak sulit untuk mengimajinasikannya. Raut muka para tokohnya sungguh terlihat nyata dan memliki ekpresi yang menonjol. Rasanya saat membaca buku ini seperti menonton filmnya langsung.
Berikut ini ilustrasinya yang sungguh mendetail dan terlihat nyata. Adegan kesukaanku: DI TOKO BUKU HEHEHE.....


“ Waktu dapat menipu kita.” (hlm 519)



   

Ini adegan waktu Hugo memperbaiki mainan tikus dari kios mainan


Adegan terfavoritku 


Setting Parisnya begitu wow


Ada beberapa adegan yang membuatku tersentuh. Yaitu saat-saat Hugo mengingat kembali momennya bersama ayahnya yang telah meninggal.
“ Hugo teringat bahwa kadang-kadang dimalam hari, Ayah Hugo membacakan kisah-kisah petualangan seru karya Jules Verne dan koleksi dongeng Hans Christian Andersen, yang merupakan favoritnya. Hugo rindu ingin dibacakan cerita.” (hlm 157)

“ Pikiran akan pergi ke bioskop membuat Hugo teringat cerita Ayah suatu hari, ketika ayahnya pergi ke bioskop waktu masih kecil. Ayah Hugo masuk ke dalam ruangan yang gelap, dan di layar putih,ia melihat roket yang terbang dan mengenai mata seseorang di bulan. Ayah Hugo bilang bahwa ia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Rasanya seperti menonton mimpi yang diputar pada siang hari.” (hlm 186)

AND this is my most favourited quote ever

“ Apakah kau memperhatikan bahwa setiap mesin dibuat untuk alasan tertentu?” tanya Hugo pada Isabelle. “ Ada yang dibuat untuk membuatmu tertawa, seperti tikus ini, atau untuk menunjukkan waktu, seperti jam, atau membuatmu keheranan, seperti automaton itu. Mungkin itu sebabnya mesin yang rusak selalu membuatku sedih karena ia tidak dapatmelakukan yang seharusnya.”
“ Mungkin orang juga begitu,” Hugo melanjutkan. “ Jika kau kehilangan tujuanmu ... rasanya seperti mesin rusak.”(hlm 384)

“ Kadang-kadang aku datang ke sini pada malam hari, bahkan ketika aku tidak sedang memperbaiki jam, hanya untuk melihat-lihat kota. Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin.Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” (hlm 388)

Buku ini juga menceritakan sejarah perfilman, terutama memperkenalkan kembali sesosok Georges Melies. Georges Melies ini seorang pembuat film terhebat jaman dulu. Sebelumnya beliau ini seorang pesulap tersohor. Saat Lumieree Bersaudara menciptakan sebuah film, beliau juga mulai membuat film dan saat itulah awal Georges Melies membuat film. Filmnya yang paling terkenal ialah, A Voyage To The Moon kalau nggak salah. Hebatnya, beliau tidak menggunakan efek 3 dimensi atau apapun itu.
Buku ini sangat cocok bagi para penggemar film sepertiku dan juga bagi para penggemar novel grafis, harus memiliki buku ini. It's highly recommended! cocok juga kok buat anak-anak yang sudah pandai membaca :)))

Film Adaptasi

Judul: Hugo
Sutradara: Martin Scorsese
Pemain: Asa Butterfield, Chloe Grace Moretz, Ben Kingsley
Durasi: 2 jam 4 menit
Tanggal rilis: 23 November 2011
Rating: PG ( adanya adegan yang sedikit menakutkan anak-anak dan kegiatan merokok orang-orang dewasa)
My rating for this film: * * * * * 5 stars

The trailer

Review:

Filmnya bahkan bisa lebih bagus dari bukunya. Bukannya aku merendahkan bukunya sih, tapi memang begitu kenyataannya.Filmnya lebih bagus. Bukunya juga bagus banget kok, gak kalah sama filmnya. Perbedaannya itu, kalau di filmnya lebih berwarna dan lebih hidup. Mungkin, agar membuat ceritanya makin berwarna, karena kalau di bukunya hanya sekedar hitam putih hihihi :b. Tapi ada beberapa adegan di buku yang dihilangkan, walaupun tidak merusak keseluruhan filmnya.
Efek 3 dimensinya sangat bagus dan hampir mendekati kata PERFECTO. Itu karena, teknologi 3D yang dipakai itu lebih modern dan lebih canggih Suasana kota Paris bahkan sangat terasa dengan diiringi oleh musik khas perancis tahun 1931 yang elegan dan klasik. Suasana stasiun tempat Hugo tinggal tergambarkan dengan baik. Persis sama dengan yang ada di buku. Thanks to Martin Scorsese who made this film won 5 Academy Awards/ Oscars (^v^)
Untuk para pemerannya, mereka memerankan tokohnya masing-masing dengan sangat baik. Pemeran utamanya, yaitu tokoh Hugo adalah Asa Butterfield (AW, pacarku #plak). Dia sangat cocok untuk memerankan tokoh Hugo Cabret anak yang sebatang kara yang hidupnya tidak berkecukupan.Melalui mata dan ekspresinya membuat tokoh yang ia perankan menjadi lebih meyakinkan. Terutama saat adegan Hugo menangis karena automatonnya tidak bekerja dengan baik. Feel -nya dapat banget dan jadi pingin ikutan nangis :'')). Untuk pemeran Isabelle, Chloe Grace Moretz. Seperti Asa, sangat cocok menjadi Isabelle. Dia juga memerankan perannya dengan sangat baik. Logat british- nya kalem bikin gemes (^v^). Walaupun logatnya tidak seperti Asa.
Beberapa adegan Hugo dan Isabelle di filmnya:

Hugo dan Isabelle menonton film di bioskop


Hugo dan Isabelle membaca buku The Inventions Of Dream karya Rene Tabard di Perpustakaan Akademi Film.

Pemeran Papa Georges ialah Ben Kingsley. Beliau memerankan tokohnya dengan sangat sangat baik juga. Salut deh buat Kek Ben Kingsley hehehe......
Ini adegan Hugo dengan Papa Georges:

Hugo dan Papa Georges di Kios Mainan Papa Georges.

Sayangnya ada salah satu tokoh yang tidak ditampilkan di filmnya dan tokoh itu salah satu tokoh yang penting di bukunya. Dan perannya akhirnya tersumbangkan ke tokoh Monsieur Labisse' kakek tua pemilik kios buku di stasiun. 
Overall, film ini sangat membuatku terharu. Kenapa? Lihat aja filmnya! atau baca bukunya dulu sebelum nonton filmnya. ;))
This is a beautiful movie I've ever seen in my whole life. And really loved it <3 <3

<3 xoxo
Putri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya ya :))
Tapi berkomentarlah dengan bahasa yang sopan dan santun ;))