Looking for something ?

Jumat, 20 Mei 2016

REVIEW Dandelia



Judul: Dandelia
Penulis: Imam Hanafi
Tebal: 206 hlm
Cetakan 1, April 2016
















REVIEW:


Dandelia engkau adalah puisi yang ku senandungkan. Dari nafas ke nafas hingga di antara keduanya. Dari detak ke detak hingga di antara keduanya. Endkaulah puisi semesta yang diagungkan. Hingga tiada keagungan selain dirimu.

Welcome back, everyone! Alhamdulillah, sekarang UNBK SMP sudah selesai bisa leluasa kembali untuk meresensi, tinggal tes masuk SMA. Eh, masih tegang juga ya? Oke udah deh ngocehnya, sekarang saya mau bercerita sedikit tentang buku sederhana yang luar biasa karya mas Imam Hanafi ini.

Dandelia, doa ini ibarat hujan. Semaik lama rinduku ini ku siram dengannya. Maka akan semakin tumbuh tinggi cintaku padamu.

Buku ini dari awal telah menyebutkan nama Dandelia. Siapakah Dandelia? Dandelia ini tokoh yang disebut sebagai seseorang yang sungguh dicintai oleh tokoh ‘aku’ yang sudut pandangnya menjadi sudut pandang orang pertama dalam buku ini. Ingin mencari tahu lebih jelas siapakah sosok tokoh ‘aku’ ini? Silahkan jelajahi bukunya…

Di samping tokoh Dandelia ini, buku ini lebih berfokus pada ajaran akhlak dan mementingkan ke’Esa’an Allah SWT yang terjabar dengan indahnya di buku ini. Kita akan menemukan banyak hal yang begitu di luar pikiran yang menunjukkan betapa jeniusnya pemikiran penulis yang tertuang dalam buku ini. Berikut ini saya akan berbagi berbagai hal yang sangat menarik hati  dan membuka pikiran saya.

“ Tuhan memberikan nikmat rasa itu lewat kejadian. Kejadian yang membuat suka, kejadian yang membuat duka, kejadian yang membuat cinta maupun kejadian yang membuat benci. Itulah cara  Tuhan memberi kita nikmat rasa. Dia menjadikan manusia dengan berbagai peran agar lewat mereka Tuhan memberikan nikmat rasa itu pada kita.” (hlm 3)
Yang pertama adalah nikmat rasa. Pernahkah kalian merasakan yang namanya senang, duka, marah dan lain sebagainya? Nah di sini telah diperjelaskan bagaimana Tuhan memberi kita nikmat rasa tersebut. Tuhan memberi nikmat rasa tersebut dengan menyalurkannya pada seseorang atau hal tak hidup dan dengan begitu kita akan merasakannya. Misal, ada yang mengejek dan kau merasa tersinggung. Contoh lain, ketika barang kita ada yang rusak kita akan merasa cemas.

“Apa sih untungnya kita membenci? Apakah dengan kita membencinya akan menjadikan dia atau mereka menjadi lebih baik? Tidak, kan? Apakah dengan kita membencinya akan menjadikan dia atau mereka hancur lebur dari muka bumi ini? Tidak, kan? La terus untuk apa kita membenci jika kebencian itu tidak ada untungnya?” (hlm 22)
“Orang bijak terlahir karena sakit hati yang bertubi-tubi dan cobaan yang silih berganti. Yang membedakan dia dengan yang lainnya adalah cara dia menerima masalah itu.” (hlm 36)
Kedua, adalah penyakit hati. Dijelaskan di sini untuk mengatasi rasa yang tidak menyenangkan yang satu ini. Sebagai manusia pastinya pernah merasakan sakit hati. Maka yang kita lakukan hanyalah bagaimana caranya untuk mengatasinya tanpa perlu memperburuk seseorang yang menyakiti kita apalagi kita sendiri. Dengan tidak saling membenci karena apa untungnya kita membenci itu.

“Tapi kembali lagi, ketika kita merasa bijak pun, kita berarti bukan bijak, Dandelia. Karena orang bijak gak akan pernah mengaku bahwa dirinya bijak. Sebagaimana orang baik gak akan pernah mengaku bahwa dirinya itu baik.” (hlm 37)
“Seperti katamu, ada berbagai pilihan dalam hidup ini, kan? Memilih marah atau sabar, memilih membenci atau memaafkan, memilih menerima atau mendebat? Itu semualah yang membedakan orang bijak dengan yang lainnya.” (hlm 36-37)
“Terkadang berita yang aku dapat hanya dari ‘katanya’ yang belum aku verifikasi atau aku tabayuni dulu, tapi sudah aku sebarkan seolah-olah itu merupakan berita yang akurat kebenarannya. Hal itu kan sangat berbahaya, Dandelia. Karena hal itu bisa menimbulkan fitnah. Dan kita tahu fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” (hlm 70)
Selain itu, masih ada banyak lagi yang dapat kita temukan di buku ini. Tentang masalah kita yang terlalu merasa, tentang pilihan hidup kita, bahkan masih ada tentang kita yang selalu bergantung pada suatu pemberitahuan yang masih belum jelas (samar) sumbernya dan banyak lagi. Untuk lebih jelas teman-teman bisa baca sendiri bukunya.

“Segalanya akan memudar, Dandelia. Tak ada yang kuat melawan waktu. Karena waktu adalah jawaban dari pertanyaan kita yang lalu sekaligus pertanyaan atas jawaban yang sekarang untuk jawaban yang nanti. Tak ada yang tahu, tak ada yang abadi.” (hlm 43-44)
Menjelang akhir dari buku ini akan lebih mengarah tentang ke’Esa’an Allah yang begitu mencolok sehingga kita akan diajak untuk selalu mengingat Sang Maha Pencipta kita. Tak lupa dengan segala pembicaraan romans mengenai tokoh Dandelia ini.

Demikianlah penjelasan saya dan mengenai penilaian saya tentang buku ini, saya tak bisa berkata apa-apa setelah menuntaskannya. Hanya satu kata yang terbesit di pikiran saya, “indah”. Dengan semua gaya bahasanya yang lembut dan mendayu-dayu tetapi di samping bahasanya yang indah makna dalam buku ini mudah dicerna.

Baru pertama kali saya membaca ini, saya langsung terpikat dengan buku ini. Walau tidak memiliki plot cerita, tetapi buku ini begitu bermakna, saudara-saudara. Saya mengaku, saya lebih menyukai buku kedua penulis dibanding buku sebelumnya yang berjudul Kekasih: Black Edition. Walau elemennya sama tentang ke’Esa’an Allah dan ajaran akhlak, tetapi saya lebih mudah mencerna buku Dandelia ini. Yah, tapi saya suka kedua-duanya sih, hehehe… Berarti sekali lagi saya kasih applause buat mas Hanafi ^_^

Demikian penilaian saya tentang buku ini. Dandelia ini adalah buku yang sangat-sangat SANGAT bermanfaat terutama untuk para remaja seumuran saya untuk menambah pengetahuan kita agar lebih mengenal agama dan Tuhan kita juga lebih mendekat diri kita pada-Nya.

So, my rating for this religious and beautiful book...

5 out of 5 stars
Untuk gaya bahasanya yang indah <3 <3


“Kita bersedih atas segala kehilangan pun karena ke’aku’an yang melekat dalam diri kita, Dandelia. Meng’aku’ bahwa segalanya itu adalah milik’ku. Padahal, bukankah segalanya itu titipan dan dapat diambil sewaktu-waktu sekehendak sang pemilik? 
Ketika milik-Nya diambil dan direnggut dari kita, ya alangkah baiknya kita tidak bersedih, Dandelia. Masak barang mau diambil oleh pemiliknya sendiri tidak boleh? Rasa kehilangan hanya akan ada jika kita pernah merasa memilikinya, Dandelia.” (hlm 112)

<3 xoxo
Putri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya ya :))
Tapi berkomentarlah dengan bahasa yang sopan dan santun ;))